ARTIKEL TERBARU

TABAYYUN: KEWAJIBAN AGAMA, BUKAN PILIHAN PERASAAN

Artikel Islami  |   |  24/12/2025
Gambar Artikel
⚖️ TABAYYUN: *KEWAJIBAN AGAMA, BUKAN PILIHAN PERASAAN*

Di zaman ketika jari lebih cepat daripada akal,
dan tombol "forward" (meneruskan) ditekan sebelum pikiran bekerja,
Allah ﷻ mengingatkan kita dengan peringatan yang tegas dan jelas:

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ*

_“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, *maka telitilah kebenarannya,* agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya membuat kalian menyesali perbuatan itu.”_ *(QS. Al-Hujurāt, ayat : 6)*

Tidak setiap kabar layak dibenarkan,
tidak setiap cerita pantas disebarkan.
Sebab lisan dan jari adalah amanah,
yang kelak dimintai hisab di hadapan Allah.

Pada ayat ini, Allah ﷻ secara khusus menyebut pembawa berita sebagai *“فاسق”* (orang fasik).
Bukan tanpa sebab.
> Karena berita tidak dinilai dari siapa yang paling dekat,
> bukan pula dari siapa yang paling pandai berbicara,
> tetapi dari kejujuran dan keadilannya.

Bukan semua yang berbicara itu jujur,
bukan semua yang menangis itu lurus.
Keadilan menuntut pendengaran yang utuh,
bukan potongan kisah yang rapuh.

Ayat ini tidak ditujukan hanya untuk orang awam,
tetapi untuk setiap orang yang mengaku beriman,
termasuk mereka yang menyampaikan ilmu, nasihat, dan fatwa.

Bahkan seorang Nabi yang dianugerahi kerajaan, ilmu, wahyu, dan kekuasaan besar tidak serta-merta menerima berita tanpa verifikasi.
Ketika burung Hud-hud datang membawa kabar tentang negeri Saba’,
Nabi Sulaiman عليه السلام tidak langsung membenarkan,
tidak pula tergesa menyimpulkan.

Beliau berkata dengan penuh kehati-hatian:

*قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ*

_“Kami akan meneliti terlebih dahulu, apakah engkau benar atau termasuk para pendusta.”_ *(QS. An-Naml, ayat: 27)*

Jika Nabi Sulaiman عليه السلام saja masih melakukan cross-check berita,
lalu apa alasan kita — yang penuh keterbatasan ilmu dan pemahaman —
untuk tergesa-gesa menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya?

🔹 Tidak semua yang viral itu benar
🔹 Tidak semua yang ramai itu valid
🔹 Dan tidak semua yang dibagikan itu membawa kebaikan

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya:

*كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع*

_“Cukuplah seseorang disebut berdusta ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.”_
*(Hadis shahih, riwayat imam Muslim dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah رضي الله عنه)*

Tenang adalah jalan takwa,
tergesa adalah pintu cela.
Adil adalah akhlak orang berilmu,
bukan keberpihakan yang dibungkus restu.

Menyalahkan tanpa mendengar,
menilai tanpa menimbang dengan benar,
bukan sikap ahli ilmu dan hikmah,
melainkan jejak langkah hawa dan ghibah.

Ini bukan tentang siapa yang disudutkan,
melainkan tentang adab sebelum keputusan.
Sebab kebenaran tidak lahir dari prasangka,
tetapi dari tabayyun dan adilnya neraca.

📌 Periksalah sebelum percaya,
dengarlah sebelum memvonis,
dan berhentilah sebelum menyesal.
_______________________
✍🏽 *Miftahul J. Sidiq*